KEMENANGAN YANG NYATA
Khutbah Idul Fitri 1447 H / 2026
Oleh: Anjas Saputra, S.H.
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفرُه وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، ونعوذُ بِاللهِ من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
فإن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.
اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَاللَّهِ الْحَمْدُ
Ma'asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu'minin rahimani wa rahimakumullah
Hari ini kita bertakbir bersama. Hari ini kita menampakkan kebahagiaan dan kegembiraan, sebagai ungkapan syukur atas perjalanan sebulan penuh yang telah kita lalui dari menahan lapar dan dahaga dalam puasa, menegakkan shalat, melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an, menebar sedekah, serta menghiasi hari-hari dengan berbagai amal kebaikan. Dan hari ini, kita menyebutnya sebagai hari kemenangan.
Namun, sejenak mari kita bertanya pada diri sendiri... benarkah kita telah meraih kemenangan itu? Ataukah jangan-jangan kita hanya merasa menang, karena berhasil menahan lapar dan dahaga semata? Lalu, sebenarnya... apa makna kemenangan yang sesungguhnya?
Allah Azza Wa Jalla berfirman di dalam Al-Qur'an :
يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون (البقرة: ۱۸۳)
"Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas umat sebelum kalian agar kalian bertakwa" (Q.S Al-Baqarah : 183)
Jika kita merenungi firman Allah pada ayat tersebut, kita akan menemukan satu tujuan agung dari disyariatkannya puasa yakni membentuk dan menumbuhkan ketakwaan dalam diri seorang hamba. Inilah hakikat kemenangan yang sesungguhnya. Kemenangan itu bukan sekadar berakhirnya bulan Ramadhan, bukan pula hanya karena kita telah menyelesaikan rangkaian ibadah di dalamnya. Akan tetapi, kemenangan yang nyata adalah ketika Ramadhan meninggalkan jejak yang hidup di dalam hati kita, melahirkan ketakwaan yang tumbuh, mengakar, dan terus terjaga meski bulan suci itu telah berlalu.
اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَاللَّهِ الْحَمْدُ
Ma'asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu'minin rahimani wa rahimakumullah
Ramadhan yang telah kita lalui bukanlah sekadar rutinitas tahunan, bukan pula hanya sebuah agenda yang datang lalu berlalu setiap tahun. Ramadhan adalah madrasah kehidupan, tempat di mana ketakwaan kita dididik, ditempa, dan dikuatkan. Ia juga menjadi medan perjuangan, tempat kita berperang melawan hawa nafsu, menaklukkan kemalasan, mengikis kebiasaan buruk, serta menahan diri dari dosa-dosa yang mungkin selama ini kita ulangi tanpa rasa bersalah.
Dan bukan hanya ketakwaan yang menjadi inti dari kemenangan itu. Ada satu anugerah besar yang juga Allah siapkan bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menjalani Ramadhan yaitu ampunan. Ampunan juga menjadi tanda kemenangan, bagi mereka yang benar-benar lulus dari ujian di bulan yang penuh berkah ini.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :
من صام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه (متفق عليه)
"Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu"
Namun, kenyataannya tidak semua orang meraih kemenangan itu. Tidak semua yang telah berpuasa selama tiga puluh hari benar-benar pulang membawa kemenangan berupa ketakwaan dan ampunan. Tidak ada jaminan bahwa setiap kita pasti mendapatkannya. Karena kemenangan itu bukan sekadar tentang lamanya menjalani Ramadhan, tetapi tentang bagaimana hati ini hidup, berubah, dan tunduk kepada Allah sepanjang perjalanan itu.
Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengingatkan :
رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطش (رواه أحمد)
"Betapa banyak orang yang berpuasa akan tetapi tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali lapar dan dahaga" (HR. Ahmad)
اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَاللَّهِ الْحَمْدُ
Ma'asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu'minin rahimani wa rahimakumullah
Sejatinya kita tidak mengetahui apakah kita mendapatkan kemenangan tersebut atau tidak, sejatinya kita tidak mengetahui apakah Allah menerima segala ibadah kita pada bulan Ramadhan atau tidak, karena hal itu merupakan perkara ghaib yang tidak diketahui hakikatnya kecuali oleh Allah Azza Wa Jalla.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu mengatakan :
يا ليت شعري من هذا المقبول فنهنيه ومن هذا المحروم فنعزيه
"Aduhai, andai kiranya aku tahu siapakah yang diterima amalannya pastilah kami akan mengucapkan selamat kepadanya, dan siapa yang diharamkan darinya maka kami akan berbela sungkawa atasnya" (Lathaiful Ma'arif: 210)
Untuk mengetahui apakah kita termasuk orang-orang yang meraih kemenangan itu atau tidak, maka janganlah kita menilai diri dari hari ini. Jangan pula kita tertipu oleh kegembiraan yang kita rasakan hari ini, atau oleh keelokan yang tampak pada diri kita saat ini. Namun, lihatlah hari-hari setelahnya, lihatlah bagaimana kita esok, bagaimana keadaan amal kita ketika Ramadhan kian menjauh dari kehidupan kita. Di sanalah letak jawabannya.
Apakah shalat kita masih terjaga ? Apakah hati kita semakin lembut ? Apakah lisan kita masih terkontrol ? Apakah Al-Qur'an masih menjadi sahabat kita? Ataukah semua itu mulai perlahan-lahan kita tinggalkan seiring pudarnya bulan Ramadhan ?. Maka diantara tanda yang diharapkan menjadi isyarat akan diterimanya amalan seorang hamba adalah istiqomah dalam ibadah serta menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Syaikh bin Baz Mengatakan mengenai tanda-tanda diterimanya amal shaleh seseorang :
فمن علامات القبول انشراح الصدر، والاستقامة على الخير، والمسارعة إلى الطاعات، والحذر من السيئات، فإذا قل شره، وكثر خيره وانشرح صدره للخير؛ فهذه من علامات التوفيق والقبول، أن تكون حاله أحسن. نعم.
"Di antara tanda-tanda diterimanya amal seorang hamba adalah lapangnya dada, keteguhan dalam kebaikan, kesigapan dalam menyambut ketaatan, serta kehati-hatian dalam menjauhi keburukan. Apabila keburukannya semakin berkurang, kebaikannya kian bertambah, dan hatinya terasa lapang untuk melakukan kebaikan, maka itulah isyarat adanya taufik dan tanda bahwa amalnya diterima keadaannya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ya, demikianlah tanda-tandanya." (Fatawa Nur Ala Ad-Darbi)
Dan yang paling mengetahui, yang paling memahami semua itu, sejatinya adalah diri kita sendiri. Kitalah yang paling layak untuk bercermin dan menilai dengan jujur apakah kita termasuk orang-orang yang meraih kemenangan itu, atau justru sebaliknya.
اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَاللَّهِ الْحَمْدُ
Ma'asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu'minin rahimani wa rahimakumullah
Kemudian diantara tanda lainnya yang diharapkan menjadi sinyal bahwa amalan kita telah diterima oleh Allah serta mendapatkan kemenangan yang nyata adalah dimudahkan untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan yang lain.
Para ulama mengatakan :
إن من ثواب الحسنة الحسنة بعدها
"Di antara tanda diterimanya suatu kebaikan adalah adanya kebaikan lain setelahnya" (Miftah Dar As-Sa'adah)
Maka, apabila setelah Ramadhan kita masih istiqamah dalam menapaki kebaikan, tetap menjaga amal-amal yang dahulu kita hidupkan, serta terus menahan diri dari keburukan sebagaimana kita melakukannya di bulan suci, maka itu bisa menjadi isyarat bahwa kita telah meraih kemenangan.
Namun, jika setelah Ramadhan kita justru kembali pada dosa yang sama, terjatuh pada keburukan yang tak banyak berubah, maka saat itulah kita patut bertanya dengan jujur pada diri sendiri... benarkah kita telah menang?
Allah Azza Wa Jalla berfirman:
ولا تكونوا كالتي نقضت غزلها من بعد قوة أأنكاثا
"Janganlah kalian seperti seseorang yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali" (Q.S An-Nahl : 92)
Ramadhan telah kita pintal dan rajut dengan kuat, maka jangan sampai kita urai dan hancurkan begitu saja setelah ia pergi.
اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَاللَّهِ الْحَمْدُ
Ma'asyiral Muslimin wa Zumrotal Mu'minin rahimani wa rahimakumullah
Maka, yang benar-benar menang pada hari ini bukanlah mereka yang mengenakan pakaian paling baru, bukan pula yang menyajikan hidangan paling lezat, atau yang menghiasi rumahnya dengan kemeriahan semata. Akan tetapi, yang sejati meraih kemenangan adalah mereka yang diampuni dosa-dosanya, diterima amal-amalnya, dan mengalami perubahan hidup setelah Ramadhan berlalu.
Kemudian, di penghujung khutbah ini, khatib ingin mengingatkan satu sunnah yang layak kita hidupkan di bulan Syawwal yaitu sebuah amalan yang in syaa Allah dapat menjadi pertanda diterimanya ibadah kita di bulan Ramadhan, karena ia adalah kelanjutan kebaikan setelah kebaikan. Amalan tersebut adalah puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِنًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
"Siapa yang melakukan puasa Ramadhan lantas ia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu seperti berpuasa setahun." (HR. Muslim)
Kemudian, khusus kepada para wanita, sesungguhnya ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah pada hari 'Id, beliau tidak melupakan kalian. Bahkan, beliau secara khusus mendatangi shaf-shaf para wanita, lalu menyampaikan nasihat dan peringatan yang penuh makna.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ، فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ، فَقَالَتْ: لِمَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، قَالَ: فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ، يُلْقِينَ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ مِنْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ
"Bersedekahlah kalian, wahai para wanita, karena kebanyakan dari kalian menjadi bahan bakar neraka Jahannam." Maka berdirilah seorang wanita dari kalangan mereka, dengan wajah yang tampak pucat, lalu bertanya, "Mengapa demikian, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Karena kalian banyak mengeluh dan sering mengingkari kebaikan suami." Maka para wanita pun segera tergerak; mereka menyedekahkan perhiasan yang mereka miliki, melemparkan cincin-cincin dan kalung-kalung mereka ke dalam kain yang dibentangkan oleh Bilal. (HR. Muslim).
Oleh karena itu, wahai para wanita yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ālā, apabila engkau telah menikah dengan seorang laki-laki, maka berbakti dan taat kepadanya adalah sebuah kewajiban yang mulia. Dan ketahuilah, ketaatan seorang istri kepada suaminya bukanlah sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan salah satu jalan paling agung menuju surga.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا ، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
"Apabila seorang wanita menegakkan shalat lima waktunya, menunaikan puasa Ramadhannya, menjaga kehormatannya, serta taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: 'Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki." (HR. Ahmad)
Semoga Allah menjadikan kita semua, baik laki-laki maupun wanita, termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa menerima nasihat, memperbaiki diri, dan dimuliakan dengan husnul khātimah. Semoga Allah Subhanahu wa ta'ala menerima amalan ibadah kita semuanya.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَاقَاضِيَ الْحَاجَاتْ
اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكَّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينِنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا ، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ فِيهِ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
وَآخِرُ دَعْوَانَا، أَنِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ